Tuesday, August 28, 2018

Pengalaman Pertama USG



Sebelumnya sudah tahu apa itu USG? Aku jelasin sedikit. Mengambil dari DokterSehat.Com– USG atau Ultrasonografi adalah prosedur pemeriksaan yang tidak berbahaya. USG menggunakan gelombang suara tinggi yang dipantulkan ke tubuh untuk memperlihatkan gambaran rahim dan isinya yang memberikan informasi dalam bentuk gambar yang disebut Sonogram yang dapat kita lihat di layar monitor.

Nah, USG ini aku lakukan ketika hamil pertama aku berumur 3 bulan dan ini merupakan anjuran dari Puskesmas, agar pemeriksaan menjadi lebih lengkap. Tepatnya pada hari jumat kemarin, tanggal 24 Agustus 2018 aku periksa ke puskesmas bersama suami. Di sana dokter dari puskesmas memberikan keterangan yang cukup lengkap dan juga memberikan saran-saran yang baik untukku. Karena memang kehamilan pertama ini membutuhkan asupan gizi yang cukup. Diantaranya adalah asam folat, calcium, dan lain sebagainya. Kemudian dokter Nuruddin (nama dari dokter puskesmas itu menganjurkan juga untuk melakukan USG. Langsung aja aku meminta surat rujukan dokter agar bisa USG secara gratis. Kebetulan aku memiliki kartu BPJS yang aku buat di tempat kerjaku sekarang. Dokter Nur mengiyakan dan kemudian membuatkan surat rujukan ke RSUD Banjarnegara.

Surat rujukan sudah di tangan, kemudian aku dan suami menentukan kapan waktu yang baik buat USG. Akhirnya kami memutuskan hari Selasa, 28 Agustus untuk melakukan USG. Tepat pukul 07.30 aku dan suami sudah mengantri di RSUD, ternyata luar biasa antriannya panjang seperti ular. Sebenarnya ini adalah kali pertamaku pergi ke RSUD untuk periksa. Sebelumnya belum pernah ke RSUD, jadi agak sedikit bingung bagaimana prosedurnya untuk periksa di RSUD. Alhamdulillah ketika USG kemarin perjalanan kami sangat lancar, walaupun harus antri sekitar 2 jam karena antrian pasien BPJS itu sangat panjang dibanding antrian pasien UMUM.

Biar lebih jelas, aku jelaskan bagaimana prosedur untuk periksa bagi pasien BPJS. Kemarin saat USG 100% gratis tanpa dipungut biaya! YES! J Lumayan ….


Keterangan 

1. Ambil nomor antrian di ruang depan pintu masuk RSUD, pilih mau pakai BPJS atau UMUM. Kalau saya klik tombol untuk pasien BPJS
2. Bawa surat rujukan, kartu BPJS anda, dan kemudian formulir pendaftaran (bila pasien baru). formulir pendaftaran bisa di dapatkan di pusat informasi dekat pengambilan nomor antrian.
3. Antri di bagian pendaftaran pasien BPJS, menunggu nomor antriannya di panggil. Setelah dipanggil serahkan berkas yang tadi disiapkan.
4. Menunggu kembali untuk di panggil CS guna mengambil kartu pasien dan kartu periksa.
5. Setelah mendapatkan kartu tersebut, pergi menuju bagian kebidanan untuk diperiksa pertama kali. Di tempat tersebut, anda akan diperiksa Berat Badan dan Tekanan Darah.
6. Selesai periksa, Bidan akan menyuruh anda menuju USG untuk di rekam kandungannya.
7. Pergilah kebagian USG serahkan kartu ke bagian pendaftaran, dan menunggu kembali untuk dipanggil gilirannya.
8. Kalau sudah, lakukan USG bersama dokter specialis. Kemudian ambil hasil USG.
9. Setelah mendapatkan hasil USG, kembali lagi ke bagian kebidanan untuk cek terakhir hasil dari rekam USG yang tadi dilakukan.
10. Kalau memang sehat, maka bisa langsung pulang. Apabila harus menebus obat, maka tebuslah obat terlebih dahulu. Dan ini gratis! J

Itu pengalaman saya melakukan USG. BPJS sangat membantu saya meringankan beban biaya priksa yang mungkin bisa habis sampai 100 ribu lebih.

Ini hasil USG saya


Alhamdulillah dedek sehat 



Sunday, August 12, 2018

Bumil yang Selalu Sensitif

Entah kenapa rasa-rasanya ada yang berbeda dalam diriku ini. Menginjak umur 11 minggu, hampir 3 bulan, badan ini semakin merasakan perbedaan yang lumayan dibanding denganku yang dulu masih lajang. Serasa malas sekali untuk beraktifitas dan juga ada perbedaan yang lain, aku jadi mudah tersinggung. Apapun yang dikatakan oleh teman-teman ataupun orang disekitarku, selalu saja aku tanggapi dengan tanggapan yang negatif. 


Ada yang memberi nasihat, aku berpikiran bahwa mereka itu kok sok banget.
Ada yang memberi larangan, misalkan gak boleh makan yang terlalu manis, gak baik buat janin dan kelahiran kelak. Aku pun tanggapi dengan negatif. 
Maunya apa si aku ini????

Orang mau kasih masukkan, hati ini serasa gak terima. Serasa bahwa mereka tuh gak hamil, aku loh yang sedang hamil, aku yang merasakan, aku yang ngerti apa aja yang aku butuhin. Mereka yang sudah pernah melahirkan ataupun belum gak tahu apa-apa sama keadaanku ini. 
Itulah negatif thinking yang aku alami. Padahal dulu-dulu akutuh orangnya nerimo and cuek bebek kalau ada komentar miring tentang diriku. 

Beda sekarang, aku jadi gampang sesenggukan, merasa paling menderita, merasa paling teraniyaya. oh Diriku! ada apa ini??? Buruan gih ke psikolog dan periksa kejiwaannya.. hhehehe

Sumber gambar 

Tapi, setelah aku tanya-tanya sama temenku yang udah punya anak dua, katanya memang seperti itu. Kalau hamil, perasaanne jadi gampang tersinggungan. Jadi, keep going aja, dibikin santai aja. Yang penting jangan kelamaan dipendem sendiri. Bisa dengan curhat sama Allah, atau sama suami. Itu bisa jadi obat. 

Yah.. mungkin itulah yang dirasakan bumil-bumil yang lain, aku mah baru pertama. Jadi harus adaptasi gitu loh....

Monday, July 30, 2018

Belajar Menjadi Working Mom

Di tahun 2018 ini saya merasakan kehidupan yang cukup berbeda. Diantaranya adalah datangnya kehadiran seorang suami di tengah-tengah keluarga kecil saya. Jelas itu membuat suasana menjadi agak ramai yang tadinya sepi seperti tanpa penghuni. Di tengah perjalanan kami menikah, akhirnya saya mengandung. Dan sekarang tengah jalan 2 bulan. Alhamdulillah sekali, itu adalah karunia yang tak ternilai harganya. 

Dikehamilan pertama saya, saya merasakan sedikit perubahan di fisik maupun mental saya. Saya menjadi lebih gampang capek. Tadinya, ketika saya beraktivitas saya tidak merasa butuh untuk setiap hari tidur siang. Sekarang saya butuh sekali. Karena pasti kalau saya tidak tidur, saya akan merasa capek. 

Ada satu tantangan lagi yang harus saya rasakan. Tantangan itu adalah, belajar menjadi working mom, alias ibu yang bekerja. Awalnya saya merasa berat hati, disaat saya hamil, saya harus bekerja. Namun, dengan berbagai pertimbangan, nafkah anak, masa depan anak, masa depan keluarga, saya berusaha untuk bersabar dan tetap menjadi pekerja. Walaupun terkadang saya sering diam-diam menangis merasa tidak kuat. Soalnya, saat hamil, pekerjaan menjadi terasa begitu berat. Gampang capek, gampang kesal, badmood, dan sebagainya. Mungkin inilah yang dirasakan ibu saya dulu. 

Ibu saya dulu ketika hamil saya, ibu tengah belajar di PGA, kalau sekarang ya mungkin kayak kuliah. Zaman dulu belum ada kendaraan, ataupun angkutan. Dulu masih jarang sekali fasilitas seperti sekarang. Ya sekitar tahun 90an. Dan itu pasti berat. Namun, ibu saya tetap melaksanakan tugasnya, sampai diangkat menjadi PNS. Menghidupi anak-anaknya, karena juga bapak saya tidak bekerja. Jadi, pekerjaan ibu menjadi dua kali lipat. Dan itu membuahkan hasil sampai sekarang. Anak-anaknya sudah bekerja semua, dan memiliki kehidupan yang baik. 

Sepertinya saya harus mencontoh semangat ibu. Untuk tetap semangat bekerja dan beraktifitas walaupun dalam keadaan hamil dan memiliki suami. Disamping bekerja, memang melayani suami itu adalah kewajiban. Dan nantinya akan ditambah satu anggota keluarga baru lagi. Bagaimana rasanya kalau bekerja, sambil melayani suami dan mengasuh seorang anak. Sepertinya seru! Dan saya harus belajar untuk memanaje kehidupan saya agar tidak terjadi keributan nantinya. 

Tuesday, June 26, 2018

Saat Tahu Testpack Mengeluarkan Garis Dua

Hari Selasa, tanggal 26 Juni 2018 aku belum juga menstruasi. Padahal biasanya menstruasiku pada tanggal 20 sampai 24 juni. Perasaanku tentunya biasa saja. Berhubung setiap kali mens, tanggalnya bisa mundur.
Suami menyarankan untuk di tes saja, takutnya memang benar-benar hamil. Sudah 6 bulan memang, kami menunggu buah hati.
Ya, dengan hati biasa aku ambil testpack dan kemudian mengetesnya untuk melihat hasil apakah hamil atau tidak.
Saat menunggu beberapa detik, tak di sangka garis yang keluar adalah dua garis. Antara perasaan campur aduk, seneng, kaget, teriak, emosi meledak, aku melihat dan memegang testpack itu agak lama. Tidak percaya.
Biasanya hanya keluar garis satu, kok ini dua?!
Apa benar aku hamil?
Aku masih belum percaya...
Aku hamil?!

Aku kemudian keluar dan langsung menyerahkan hasil itu kepada suami. Suamipun tanya, apa ini? Ini maksudnya apa?
Aku bilang,"baca aja tuh..."

Ekspresinya pun kaget dan tak menyangka bahwa aku hamil.

Aku hanya bisa bersyukur, sujud kepada Allah. Karena Allah sudah memberikan nikmat yang luar biasa ini kepada kami.
Amanah ini akan kami jaga sebaik-baiknya..

Tentu ...
Hari-hari yang menyenangkan akan segera tiba...

Wednesday, June 20, 2018

Waktuku untuk Adaptasi

Entah aku harus mulai darimana tentang perasaanku menikah selama setengah tahun. Terhitung dari bulan desember sampai sekarang, akhir juni, sudah sekitar 6 bulanan aku hidup bersama orang baru yaitu suamiku. Banyak hal yang kami lewati. Suka, duka, bahagia, gregetan dan sebagainya aku rasakan melebihi saat aku hidup sendiri tidak ada pasangan.

Ternyata menikah itu mudah, yang masih sulit untuk aku lakukan adalah penyesuaian dengan beberapa karakter yang baru, dan tentunya dengan keterbatasan yang baru. Dahulu, saat masih sendiri, mau kemana-mana mudah. Tinggal menyalakan motor, ijin ibu langsung pergi ke tempat tujuan. Bebas melakukan apapun. Bebas bergaul dengan siapapun. Namun, sekarang semuanya berbeda. Kadang mau pergi harus ijin dulu, dan setiap ijin terkadang tidak diijinkan. Itulah dilema terdalamku saat ini.

Aku tentunya harus sadar, bahwa sekarang sudah ada yang harus menjagaku baik itu lahir maupun batin. Jiwa dan raga. Maka dari itu, aku harus siap menjalani beberapa penolakan yang belum pernah aku alami sebelumnya.

Kehidupan terbatas, teman terbatas, acara terbatas, sebenarnya diriku juga butuh dengan kebiasaanku dahulu. Tapi, aku sekarang sudah berkeluarga, sudah hidup berdua, bahkan berlima dengan mertua. Akupun harus memahami perasaan mereka. Akupun harus memperbaharui perasaanku agar aku tidak merasa terkekang ataupun apa.

Namun, selama ini yang aku rasakan adalah kebahagiaan karena ada orang yang sangat peduli terhadap diriku.

Bersabarlah wahai diriku.  .

Saturday, May 19, 2018

Resep Ramadhan - Sambal Rempela Ati

Bagaimana Ramadhan teman-teman sampai hari ini? Semoga selalu lancar ya.. 
Ketika Ramadhan pasti ada agenda-agenda tambahan yang sebelumnya belum pernah kita lakukan sebagai seorang istri. Salah satunya adalah menambah menu-menu makanan berbuka yang menggugah selera. Ide-ide memilih menu bisa ibuk-ibuk dapatkan lewat social media. Ada di internet, blog, facebook, dan kalau mau sekalian lihat gambarnya ada di instagram juga. 

Saya disini mencoba mencari resep bermacam-macam sambal. Kenapa sambal? Soalnya salah satu menu favorite suami saya adalah sambal. 
Setiap kali hendak memasak, suami saya selalu request sambal.
"Yank, tolong buatin sambal donk... yang ada terasinya ya.."
And then, i'll make it with love. :P


Nah, hari ini sepertinya saya pengin banget buat sambal rempelo ati. Rempelo ati menurut saya itu enak banget kalau digoreng kering atau di jadikan sambal. Bisa bikin nafsu makan saya meningkat. Dan tentunya menu tersebut akan menjadi menu variasi saya karena dari kemarin saya membuat sambal terasi :)

Resep di bawah ini saya dapatkan lewat instagramnya @nana_jajan


Yuk Kita Mulai Buk!


Bahan utama :
1. Ati ayam 500 gr (Diberi garam dan goreng terlebih dahulu)

Bumbu Sambal :
1. 2 buah cabe merah
2. 22 buah cabe rawit
3. 6 siung bawang merah
4. 4 siung bawang putih
5. 1/2 sdt garam
6. 1/2 sdt kaldu ayam
7. 1/2 sdt gula pasir

Cara pembuatan :
1. Uleg kasar bumbu sambalnya
2. Potong kecil-kecil atu ayam yang sudah di goreng tadi
3. Campurkan bumbu sambal dan ati ayam
4. Sajikan dengan cinta

Itu resep yang saya dapatkan, yuk dipraktikan bareng-bareng ibuk-ibuk. Nanti di share pengalamannya ya....