Monday, July 30, 2018

Belajar Menjadi Working Mom

Di tahun 2018 ini saya merasakan kehidupan yang cukup berbeda. Diantaranya adalah datangnya kehadiran seorang suami di tengah-tengah keluarga kecil saya. Jelas itu membuat suasana menjadi agak ramai yang tadinya sepi seperti tanpa penghuni. Di tengah perjalanan kami menikah, akhirnya saya mengandung. Dan sekarang tengah jalan 2 bulan. Alhamdulillah sekali, itu adalah karunia yang tak ternilai harganya. 

Dikehamilan pertama saya, saya merasakan sedikit perubahan di fisik maupun mental saya. Saya menjadi lebih gampang capek. Tadinya, ketika saya beraktivitas saya tidak merasa butuh untuk setiap hari tidur siang. Sekarang saya butuh sekali. Karena pasti kalau saya tidak tidur, saya akan merasa capek. 

Ada satu tantangan lagi yang harus saya rasakan. Tantangan itu adalah, belajar menjadi working mom, alias ibu yang bekerja. Awalnya saya merasa berat hati, disaat saya hamil, saya harus bekerja. Namun, dengan berbagai pertimbangan, nafkah anak, masa depan anak, masa depan keluarga, saya berusaha untuk bersabar dan tetap menjadi pekerja. Walaupun terkadang saya sering diam-diam menangis merasa tidak kuat. Soalnya, saat hamil, pekerjaan menjadi terasa begitu berat. Gampang capek, gampang kesal, badmood, dan sebagainya. Mungkin inilah yang dirasakan ibu saya dulu. 

Ibu saya dulu ketika hamil saya, ibu tengah belajar di PGA, kalau sekarang ya mungkin kayak kuliah. Zaman dulu belum ada kendaraan, ataupun angkutan. Dulu masih jarang sekali fasilitas seperti sekarang. Ya sekitar tahun 90an. Dan itu pasti berat. Namun, ibu saya tetap melaksanakan tugasnya, sampai diangkat menjadi PNS. Menghidupi anak-anaknya, karena juga bapak saya tidak bekerja. Jadi, pekerjaan ibu menjadi dua kali lipat. Dan itu membuahkan hasil sampai sekarang. Anak-anaknya sudah bekerja semua, dan memiliki kehidupan yang baik. 

Sepertinya saya harus mencontoh semangat ibu. Untuk tetap semangat bekerja dan beraktifitas walaupun dalam keadaan hamil dan memiliki suami. Disamping bekerja, memang melayani suami itu adalah kewajiban. Dan nantinya akan ditambah satu anggota keluarga baru lagi. Bagaimana rasanya kalau bekerja, sambil melayani suami dan mengasuh seorang anak. Sepertinya seru! Dan saya harus belajar untuk memanaje kehidupan saya agar tidak terjadi keributan nantinya. 

0 comments:

Post a Comment

Gak usah ragu-ragu buat ninggalin jejak disini, karena gw rasa kita sama-sama satu nasib satu sepenanggungan sebagai manusia paling galau di dunia.. huehuee