Wednesday, March 27, 2013

Gara-Gara Bunuh Diri


Agan dan Necan, menulis itu adalah suatu hal yang luar biasa jika kita menekuninya. Tak ayal, banyak orang terkenal gara-gara tulisannya. Kita juga bisa membagi ilmu yang kita miliki dengan menulis. Maka, agar tulisannya bermanfaat maka tulis-lah hal-hal yang bermanfaat juga. Agar nantinya ini bisa menjadi ladang amal bagi kite semue.... -quotes For today and tomorrow-

#Mon pengin jadi orang bener... heheheh



Nah Agan dan Necan, kemarin dah baca cerita Mon yang judulnya Gajebo itu kan..? Ini, ada cerita lagi nih. Mon dulu banget #JamanUyahDurungAsin sering ikutan lomba menulis (Tapi gak ada yang menang eee >< ). Ini Mon pengin membaginya ke dunia Maya biar Maya tahu kalau Mon nulis.. heheheh
Selamat menyaksikan.....




Gita, seorang anak kelas 3 SMA yang rajin beribadah ke gereja dekat rumahnya. Gita, seorang anak yang cantik, pintar namun pendiam yang juga seorang miskin yang tidak punya apa-apa. Gita mempunyai keinginan untuk membelikan sepeda motor kepada kedua orang tuanya, untuk mempermudah pekerjaan ayahnya seorang tukang becak diusia yang saat ini baru menginjak umur 17 tahun. Orang tuanya yang sudah tua renta, tak lelah bekerja keras banting tulang hanya untuk membiayai Gita, anak tunggalnya untuk sekolah. Tentunya, kedua orang tuanya sangat menginginkan Gita bisa menyelesaikan sekolahnya dan bisa bekerja secara layak tidak seperti kedua orang tuanya saat ini. 

            Tidak seorang pun tahu dibalik kelakuannya yang pendiam, Gita mempunyai rencana untuk mencari uang demi membahagiakan orang tuanya. Selain dia mendoakan mereka setiap dia pergi ke gereja, dia juga berusaha untuk menabung dan bertekad merealisasikan keinginan kuatnya. Tanpa sepengetahuan mereka, Gita bekerja sebagai penyanyi di klub malam. Pekerjaan tersebut diperantarakan oleh teman dekatnya. Uang yang dia kumpulkan dia tabung dan kemudian dia berikan kepada kedua orang tuanya. Karena pekerjaannya itu, Gita sering pulang malam. 

Orang tuanya pun bertanya kepada Gita,”Git, kenapa sering pulang malam? Anak perempuan tidak baik kalau sering pulang malam.”
Gita menjawab,”Tiap malam tuh Gita belajar kelompok Bapak, Ibu, dirumah temen Gita di kota.”
“Oh, baiklah. Tapi jangan terlalu sering, Bapak tidak suka. Ibu juga pasti akan khawatir.” Kata Bapak Gita tanpa ada rasa curiga.
“Iya Bapak…”Jawab Gita.

Beberapa bulan kemudian….

“Bapak, ini ada hadiah buat Bapak. Tolong dibuka ya.” Kata Gita disuatu pagi.
Bapak Gita pun membukanya dan menarik sebuah kunci keluar dari kotak pembungkus berwarna merah dan melihat sebuah motor turun dari mobil pick up didepan rumahnya.
“Dapat dari mana uang untuk membeli itu?” Tanya Bapak Gita masih sedikit kaget.
“Gita dapat dari sisa uang saku dan Gita kerja di toko.” Jawab Gita.
Saking merasa senang, kedua orang tuanya segera mengalihkan perhatian kepada sepeda motor didepan rumah tanpa menanyai lebih lanjut masalah uang kepada Gita.

Beberapa hari kemudian….

Bapak dan Ibu Gita berencana untuk mencoba sepeda motor itu ke jalan raya. Saat keluar rumah dan tersenyum kepada Gita, perasaan Gita tidak enak. Namun, Gita hanya tersenyum saat motor keluar dari halaman rumah Gita.
Masuk kerumah, Gita menuju ke kamar  melaksanakan keinginannya untuk tidur siang. 2 jam Gita tidur, terdengar suara keras yang berasal dari pintu depan Gita. Gita terbangun dan membuka pintu dengan raut muka malas.
“Kenapa pak?” Tanya Gita saat membuka pintu rumahnya.
“Git…. Bapak Ibumu…. mereka…… meninggal……” Kata Bapak itu sambil terengah-engah.
“Apaaa!!!!!! Kenapa???” Teriak Gita.
“Mereka meninggal dalam kecelakaan tadi siang dijalan raya. Meraka tertabrak bus saat mengendarai sepeda motor.” Jawab Bapak itu.
Bagai tersambar petir, Gita kaget dan langsung terbaring lemas.

Setelah pemakaman…

Gita sekarang menjadi yatim piatu. Dia merasa menyesal atas kematian kedua orang tuanya. Gita merasa bersalah, dia berpikir mungkin gara-gara motor yang dia beri kepada kedua orang tuanya. Terlintas dalam pikiran Gita untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga.
“Arrrgggghhh!!!! Bapak Ibu maafkan Gita…” Teriak Gita memecah keheningan.
Gita saat itu langsung menjadi gila dan pergi lari keluar rumah menuju jalan raya. Gita ingin segera bunuh diri dengan cara melompat ke bus. Saat tiba di jalan raya dan ingin segera berlari ketengah jalan, ternyata didepan ada bus yang menyerempet sepeda motor. Peristiwa itu berlangsung dengan tragis.

Bus itu melarikan diri meninggalkan motor yang ditumpangi seorang Bapak dan anak berusia kurang lebih 12 tahun. Motor itu terpelanting jauh dari jalan raya. Gita merasa sedikit kecewa, dia tidak berhasil bunuh diri karena adanya kecelakaan itu. Walaupun begitu, Gita berlari menuju tempat kejadian perkara dan segera menolong korban.
“Bapak…bapak…. Tidak apa-apa???” Tanya Gita sambil menyingkirkan sepeda motor yang menindih kaki Bapak itu.
Anak yang diboncengi bapak tersebut berdiri tegak tidak lecet sema sekali.
“Pak….pak… bangun….” Teriak anak itu.
Keadaan parah melanda bapak tersebut, kedua kakinya patah dan kepala bersimbah darah.
“Ayo dek, kita langsung bawa Bapak kamu ke rumah sakit.” Kata Gita.
Bergegaslah Gita mengantar bapak dan anak itu kerumah sakit.

Selang beberapa waktu….

“Maaf, kedua kaki Bapak adek tidak bisa berfungsi kembali.” Kata Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
“Apaa!!!” Teriak anak tersebut.
Gita langsung menenangkan anak tersebut dan menuntun dia ke lobi rumah sakit. Gita memberikan sedikit nasihat dan menghiburnya agar tidak bersedih lagi. Setelah tenang, dia langsung menanyakan perihal asal-usul anak itu,“Ngomong-ngomong siapa nama adek?”
“Ibnu.” Jawab anak itu dengan singkat.
“Ok Ibnu, ayo kita ke administrasi melunasi biaya pengobatan Bapak kamu.” Kata Gita sambil menggandeng anak itu.

Sesampainya di tempat….

“Mba, biaya semuanya Rp. 6.000.000,-.” Jawab petugas administrasi.
“Gleekk…” Gita menelan ludah, karena sekarang Gita tidak punya uang lagi untuk membantu membayar biaya pengobatan. Uangnya telah habis untuk membeli sepeda motor bagi almarhum orang tuanya yang sekarang sudah menjadi puing-puing rongsokan tak berguna.
Gita menghampiri anak tersebut dan membicarakan masalah biaya. Ternyata, Ibnu juga tidak memiliki uang sepeserpun.
Sebenarnya kami punya tanah yang luas kak, tetapi sudah diwakafkan beberapa bulan lalu untuk membangun masjid di desa kami.” Cerita anak itu.
Karena masalah tersebut, mereka berencana pulang ketempat Ibnu tinggal, berharap akan ada bantuan untuk mereka. Didalam hati, Gita sebenarnya punya perasaan takut terhadap orang Islam karena Gita pikir orang Islam itu teroris. Namun, dia tidak tega melihat seseorang yang sedang dilanda musibah seberat itu.

2 jam kemudian…..   

Sesampainya dirumah Ibnu, Gita melihat kondisi rumah yang tidak layak. Gita pun menangis tersedu-sedu.
“Kenapa kak? Kok malah nangis? Yang kena musibah kan aku.” Kata Ibnu sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Maaf dek... Kakak teringat sesuatu.” Gita tiba-tiba teringat akan masalahnya yang sebenarnya menyesal karena tidak jadi mengakhiri hidupnya.
“Oh gitu. Kakak ayo kita nyari bantuan, adik gak punya uang sama sekali. Kita coba pinjem ke tetangga.”
Berkelilinglah mereka dari rumah ke rumah. Panas terik matahari menyengat membakar kulit-kulit pucat mereka. Namun, mereka belum juga mendapatkan hasil. Mereka pun istirahat melepas lelah di suatu masjid. Suara azan Dhuhur berkumandang memasuki gendang telinga kedua insan manusia tersebut. Sang anak beranjak dari tempatnya dan segera menuju ke tempat wudhu.
“Kak, sholat gak?” Tanya Ibnu.
“Maaf dek, kakak non muslim.” Jawab Gita.
“Oh ya kak, maaf. Adek sholat dulu ya.”
Ditengah-tengah sholat, Gita mengintip ke dalam. Baru pertama kali Gita memasuki masjid. Perasaan Gita saat masuk merasa aneh dan merasa sangat damai.
“Kenapa hati ini tenang ya?” Batin Gita.
Gita melihat kekhusyukan Ibnu dalam berdoa. Anak tersebut tak henti-hentinya menyebut kata “ALLAH” dalam do’anya.
Perhatian Gita terpecah saat ada seorang pemuda datang dan bertanya,“Mba, tempat mengambil air wudhu dimana ya?”
“Oh, disebelah kanan kalau tidak salah. Masuk aja.” Jawab Gita.
“Terima kasih.” Jawab pemuda itu sambil tersenyum.
Setelah pemuda itu berlalu, Ibnu datang menghampiri Gita dan duduk dengan wajah masih terlihat sedikit sedih.
“Kak gimana ya? Kita nyari uang kemana?” Tangis Ibnu.
“Aku juga bingung.” Jawab Gita menggaruk-garuk perut yang sebenarnya sedikit lapar.
“Haaa…….!!!” Tangis Ibnu makin kencang mengejutkan ayam yang tengah mencari makan ditempat itu sehingga berlari kencang dan menabrak dinding masjid.
“Waduh…” Gita kaget dengan teriakan Ibnu.

6 menit kemudian….

Tangis Ibnu tidak kunjung henti, Gita mencoba terus menghibur Ibnu. Pemuda yang baru selesai sholat, segera keluar dan menghampiri mereka.
“Kenalkan nama saya Ridho, saya mendengar tangisan anak ini… ada apa gerangan?” Tanya pemuda itu.
“Oh, dia tengah tertimpa musibah. Bapaknya sedang dirawat dirumah sakit dan dioperasi. Sedangkan dia tidak punya biaya untuk menebus pengobatan Bapaknya.” Jawab Gita dengan muka kesedihan.
Karena tidak tega, pemuda itu mengeluarkan uang Rp. 6.500.000,- dari kantongnya. Dia menjelaskan bahwa uang tersebut dia dapat dari penjualan motornya yang sebenarnya ingin dia gunakan untuk membayar kontrakannya. Betapa bahagianya Gita dan Ibnu. Kaget sebenarnya, namun mereka langsung menuju rumah sakit dan menebus biaya pengobatan bapak Ibnu.
Setelah menyelesaikan administrasi, pemuda tersebut diajak pulang kerumah beserta Bapak Ibnu. Bapak dan Ibnu merasa bahagia akan bantuan kedua insan manusia itu. Bapak Ibnu menceritakan bahwa mereka sebenarnya ingin pergi menuju masjid yang mereka bangun untuk melaksanakan sholat jum’at. 

Gita mendengarkan secara seksama dan merasa takjub karena mereka begitu semangat dan tabahnya dalam menghadapi cobaan yang dia kira kalau orang Islam itu seperti bayangannya yaitu sekelompok manusia yang memiliki sifat jahat dan licik.
Bapak itu kemudian berkata kepada Gita,”De, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya. Orang tua adek tidak khawatir kan dengan adek?”
“Oh, tenang saja pak. Tidak akan. Ehmmm… karena mereka mungkin sudah tenang di alam sana dan saya sangat menyesal karena sudah berbuat salah kepada mereka.” Sedih Gita.
“Adek sekarang sendirian? Kenapa tidak tinggal dengan kami?” Tanya bapak Ibnu.
“Benar bapak? terima kasih banyak.” Tangis Gita semakin keras.
Gita sangat takjub dengan kehidupan Islam mereka. Akhirnya, Gita meminta izin kepada keluarga itu untuk masuk islam karena Gita merasa terpanggil hatinya untuk lebih mengenal ajaran Islam. Gita pun mengumandangkan syahadat didepan para saksi dan resmi menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. 

Melihat kebahagiaan keluarga itu, pemuda yang sejak tadi menyaksikan kejadian yang sebenarnya tidak ia mengerti tiba-tiba mempunyai inisiatif untuk menanyakan sesuatu kepada Gita.
“Permisi, saya ingin nenanyakan sesuatu kepada Gita.” Kata Ridho.
“Silakan katakan saja.” Kata Gita merespon.
“Setelah saya mengamati, sebenarnya saya tertarik kepada Gita atas semua kejadian yang terjadi. Maukah Gita menjadi istri selamanya bagiku, yang bisa menemaniku dalam sedih maupun senang?” Tanya Ridho tanpa berpikir panjang atas jawaban Gita nantinya.
Gita tanpa sadar langsung menjawab,” Ya.”

1 minggu kemudian….

Ternyata setelah beberapa hari menikah, Gita langsung diajak Ridho untuk pergi kerumah dia. Didepan rumah Ridho, mata Gita melotot dan tidak bisa berkedip karena ternyata rumah Ridho sangat megah. Ridho adalah anak dari pengusaha kaya, dan dia mempunyai beberapa sekolah Islam asuhan. Subhanallah….
Senyum Gita tambah merekah dan dia sangat bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan.
“Di balik kesulitan pasti ada kemudahan, aku sangat bersyukur telah menjadi muslimah dan aku berjanji akan terus mengabdi kepada agamaku. Islam itu indah kurasa.” Bisik Gita sambil menengadah ke langit dan kedua tangannya memegang Ridho (suaminya), Bapak Ibnu, dan Ibnu.

Tanpa sadar dan tanpa terdengar oleh Gita, Ridho, Bapak dan Ibnu yang juga berada didekat Gita saling bertukar pandang dan berbisik bersama-sama mengatakan,” Alhamdulillah ya…. J
The End

Peace....

#CatatanOrangGilaBentar 

           


2 comments:

Gak usah ragu-ragu buat ninggalin jejak disini, karena gw rasa kita sama-sama satu nasib satu sepenanggungan sebagai manusia paling galau di dunia.. huehuee